Dalam permainan bola basket modern, tembakan jarak jauh telah menjadi senjata yang sangat mematikan. Tim yang mampu menguasai area luar garis lengkung sering kali memiliki peluang menang yang jauh lebih besar karena efisiensi poin yang dihasilkan. Tren global ini ditangkap dengan sangat baik oleh pengurus basket di Jawa Timur, khususnya melalui pengembangan Teknik Three-Point yang kini menjadi fokus utama di Kota Patria. Perbasi Blitar menyadari bahwa untuk bersaing di tingkat provinsi maupun nasional, para pemain lokal harus memiliki keunggulan spesifik dalam hal akurasi tembakan agar dapat memecah pertahanan lawan yang rapat di bawah ring.
Proses membangun seorang penembak jitu tidak bisa dilakukan secara instan atau hanya sekadar melakukan lemparan sembarang. Di bawah naungan Perbasi Blitar, kurikulum latihan mulai diubah dengan menitikberatkan pada mekanika gerak yang konsisten. Latihan dimulai dari posisi kaki yang sejajar (alignment), kekuatan tolakan dari otot tungkai, hingga pelepasan bola dari ujung jari (flick) yang harus halus. Setiap atlet muda diajarkan untuk memahami bahwa tenaga tembakan tiga angka berasal dari kaki, bukan semata-mata dari kekuatan tangan. Dengan fondasi mekanika yang benar, akurasi seorang pemain akan tetap terjaga meskipun dalam kondisi kelelahan fisik yang luar biasa di akhir pertandingan.
Selain aspek mekanis, program Latihan Akurasi yang diterapkan di Blitar juga melibatkan aspek mental dan repetisi yang tinggi. Seorang pemain diwajibkan melakukan ratusan hingga ribuan kali tembakan dalam satu minggu latihan guna membangun memori otot (muscle memory). Pelatih di Blitar sering menggunakan metode latihan di bawah tekanan, di mana atlet harus mencapai target jumlah masuk tertentu dalam waktu yang singkat. Hal ini bertujuan agar saat berada dalam situasi pertandingan sesungguhnya, atlet tidak lagi merasa gugup saat mendapatkan ruang terbuka untuk menembak. Ketenangan adalah kunci utama bagi seorang shooter untuk mengeksekusi bola dengan sempurna.
Fokus pengembangan ini ternyata memberikan dampak positif pada gaya bermain tim-tim asal Blitar. Dengan ancaman yang nyata dari garis tiga angka, pemain lawan terpaksa keluar dari zona nyaman mereka untuk melakukan penjagaan ketat. Hal ini justru membuka ruang bagi pemain center atau forward untuk melakukan penetrasi ke dalam. Sinergi antara ancaman luar dan serangan dalam inilah yang membuat strategi basket di Blitar menjadi lebih dinamis dan sulit diprediksi. Pengurus terus berupaya mengadakan kompetisi khusus seperti three-point contest guna mencari bakat-bakat terpendam yang memiliki “tangan dingin” dalam mengeksekusi bola-bola sulit.