Kemampuan mengontrol bola basket atau ball handling adalah fondasi yang membedakan pemain biasa dengan pemain bintang. Namun, sering kali pemain mengalami kesulitan saat harus berpindah dari satu jenis lapangan ke jenis lapangan lainnya. Di bawah bimbingan Perbasi Blitar, para pemain muda diajarkan untuk tidak hanya jago di satu medan saja. Penguasaan teknik dribble yang adaptif menjadi fokus utama agar pemain memiliki fleksibilitas tinggi. Baik bermain di atas lantai kayu yang mulus, semen yang kasar, maupun aspal yang tidak rata, seorang point guard harus mampu menjaga bola tetap dalam kendalinya tanpa kehilangan kecepatan.
Setiap permukaan lapangan memiliki karakteristik daya pantul yang berbeda. Di lantai kayu (indoor), bola memantul dengan sangat konsisten dan cepat, sehingga tangan harus lebih rileks namun tetap waspada. Sebaliknya, saat bermain di lapangan semen atau luar ruangan, bola cenderung terasa lebih berat dan pantulannya sering kali tidak terduga akibat adanya berbagai tekstur lapangan. Di sinilah pentingnya posisi tubuh yang rendah (low stance). Dengan menjaga pusat gravitasi tetap rendah, tangan berada lebih dekat dengan permukaan tanah, sehingga jarak tempuh bola saat memantul menjadi lebih pendek. Hal ini secara otomatis memperkecil peluang lawan untuk mencuri bola atau terjadinya salah pantul akibat kerikil kecil.
Para pelatih di lingkungan Perbasi Blitar menekankan penggunaan ujung jari (fingertips) sebagai kontrol utama, bukan telapak tangan. Saat menghadapi permukaan yang tidak rata, ujung jari memberikan sensitivitas yang lebih tinggi untuk merasakan ke mana arah bola akan bergerak setelah menyentuh lantai. Jika bola memantul sedikit melenceng, otot-otot kecil di jari akan memberikan koreksi instan agar bola tetap kembali ke genggaman. Latihan ini biasanya dilakukan dengan metode blind dribble, di mana pemain harus menggiring bola tanpa melihat sambil berpindah-pindah dari area semen ke area tanah yang padat untuk melatih kepekaan sentuhan tangan.
Selain kontrol jari, kekuatan pergelangan tangan memainkan peran vital dalam menjaga agar dribble stabil. Di lapangan outdoor yang kasar, pemain harus mendorong bola dengan tenaga yang sedikit lebih kuat agar bola kembali ke tangan dengan ritme yang sama seperti di lapangan indoor. Perbedaan tenaga dorong ini harus dipelajari melalui repetisi ribuan kali. Atlet di Blitar sering kali melakukan latihan dengan menggunakan bola yang sedikit lebih berat atau menggunakan sarung tangan untuk meningkatkan tingkat kesulitan. Hasilnya, saat mereka kembali ke kondisi normal, kendali bola mereka akan terasa sangat ringan dan sangat presisi.