Perbasi Blitar Menjawab: Apa Bedanya Keseleo Ringan dan Berat?

Dalam dinamika permainan bola basket yang cepat di Jawa Timur, cedera pergelangan kaki atau engkel seolah menjadi risiko yang tidak terpisahkan dari setiap pertandingan. Sering kali, para pemain di lapangan merasa bingung menentukan apakah mereka harus segera ke rumah sakit atau cukup beristirahat di rumah saja. Melalui program edukasi kesehatan atlet, Perbasi Blitar Menjawab mendalam mengenai klasifikasi cedera ini. Memahami perbedaan antara tingkat keparahan cedera sangat krusial agar penanganan yang diberikan tepat sasaran dan tidak memicu kerusakan jaringan yang lebih parah di masa depan.

Secara medis, kondisi yang sering kita sebut keseleo ini dikenal dengan istilah sprain, yaitu peregangan atau robekan pada ligamen. Untuk membantu para pemain dan pelatih lokal, otoritas basket di Blitar membagi cedera ini ke dalam tiga tingkatan utama. Keseleo ringan atau Tingkat I terjadi ketika ligamen hanya mengalami peregangan yang berlebihan tanpa adanya robekan nyata. Gejalanya biasanya berupa nyeri yang samar, sedikit bengkak, namun pemain masih memiliki kemampuan untuk menumpu beban tubuh meskipun terasa tidak nyaman. Pada fase ini, pemulihan biasanya berlangsung cepat, sekitar satu hingga dua minggu dengan perawatan mandiri yang tepat.

Berbeda halnya dengan keseleo berat atau yang masuk dalam klasifikasi Tingkat III. Kondisi ini merupakan situasi medis darurat bagi seorang atlet karena ligamen telah mengalami robekan total. Pemain yang mengalami tingkat ini biasanya akan mendengar suara “pop” saat kejadian dan merasakan nyeri yang sangat hebat hingga tidak mampu berdiri sama sekali. Pembengkakan akan muncul secara instan dan biasanya disertai dengan memar keunguan (ekimosis) yang luas di sekitar area engkel. Tim medis Perbasi Blitar menekankan bahwa pada tingkat ini, sendi menjadi sangat tidak stabil dan memerlukan intervensi medis profesional, bahkan terkadang tindakan pembedahan untuk menyambung kembali ligamen yang putus.

Di antara keduanya, terdapat Tingkat II atau keseleo sedang, di mana terjadi robekan parsial pada ligamen. Gejala yang muncul merupakan perpaduan dari keduanya, dengan tingkat nyeri yang cukup mengganggu dan ketidakstabilan sendi yang mulai terasa. Apa bedanya penanganan untuk ketiga tingkat ini? Jika pada tingkat ringan protokol RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) biasanya sudah cukup, pada tingkat berat, atlet mungkin memerlukan gips atau sepatu bot khusus (walking boot) untuk memastikan sendi benar-benar tidak bergerak selama proses penyembuhan jaringan berlangsung.