Upaya untuk Bangun Karakter melalui basket dimulai dari kurikulum kepelatihan yang tidak hanya berfokus pada teknik dribbling atau shooting. Di Blitar, setiap sesi latihan diwajibkan menyisipkan sesi motivasi dan etika. Atlet diajarkan tentang nilai-nilai kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Perbasi Blitar meyakini bahwa lapangan basket adalah miniatur kehidupan; bagaimana seorang pemain menghadapi kekalahan, bagaimana mereka merespons instruksi pelatih, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan rekan setim adalah cerminan dari karakter asli mereka yang akan terbawa hingga mereka dewasa.
Kunci dari keberhasilan program ini adalah keberanian organisasi untuk Jadikan Disiplin Sebagai Budaya yang mengakar kuat. Disiplin tidak lagi dianggap sebagai beban atau hukuman, melainkan sebagai gaya hidup (lifestyle) yang membanggakan. Misalnya, keterlambatan latihan satu menit pun memiliki konsekuensi yang mendidik bagi seluruh tim, bukan hanya individu. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa saling memiliki dan tanggung jawab kolektif. Dengan menjadikan disiplin sebagai budaya, para atlet di Blitar akan merasa malu jika mereka tidak memberikan usaha maksimal dalam setiap kegiatan.
Penerapan Budaya Basket yang disiplin ini juga mencakup aspek akademik bagi para atlet yang masih berstatus pelajar. Perbasi Blitar bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk memantau nilai rapor para pemain. Atlet yang prestasinya di sekolah menurun karena terlalu sibuk bermain basket akan diberikan bimbingan khusus atau bahkan dilarang bertanding sementara waktu. Kedisiplinan dalam membagi waktu antara hobi dan kewajiban belajar adalah bagian dari pembentukan karakter pria dan wanita yang seimbang. Blitar ingin membuktikan bahwa basket bisa berjalan beriringan dengan prestasi akademik yang cemerlang.
Dalam tataran teknis, Perbasi Blitar juga menerapkan standarisasi disiplin di atas lapangan. Pemain dilatih untuk disiplin dalam sistem pertahanan (defense) yang menuntut pengorbanan fisik luar biasa. Mereka diajarkan bahwa menyerang mungkin memenangkan tepuk tangan penonton, tetapi pertahanan yang disiplinlah yang akan memenangkan kejuaraan. Pelatih di Blitar tidak ragu untuk mencadangkan pemain bintang jika pemain tersebut malas dalam bertahan atau tidak disiplin dalam rotasi tim. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: sistem tim jauh lebih penting daripada ego individu.